Bahaya dan Dampak Dari Opium

Category: Uncategorised Published: Tuesday, 27 December 2016 Written by Super User

Opium merupakan resin narkotika yang terbentuk dari lateks yang dikeluarkan oleh polong biji muda dari bunga opium (Papaver somniferum). Bunga ini berisi sampai 16% morfin, suatu alkaloid opiat, yang paling sering diproses secara kimia untuk menghasilkan heroin untuk perdagangan obat ilegal. Opium secara bertahap telah digantikan oleh berbagai semi-sintetik, dan opioid sintetik dengan efek yang semakin kuat, dan dengan anestesi umum lainnya. Proses ini dimulai pada 1817, ketika Friedrich Wilhelm Adam Sertürner melakukan isolasi morfin murni dari candu setelah setidaknya tiga belas tahun penelitian dan percobaan yang hampir menjadi bencana pada dirinya sendiri dan tiga anak laki-lakinya.

Opium, apiun, atau candu adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang. Opium merupakan tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dnegan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah. Bunga opium sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Buah opium berupa bulatan sebesar bola pingpong bewarna hijau.

Istilah untuk candu yang telah dimasak dan siap untuk dihisap adalah madat. Istilah ini banyak digunakan di kalangan para penggunanya bukan hanya sebagai kata nomina tapi juga kata kerja. Buah opium yang dilukai dengan pisau sadap akan mengeluarkan getah kental berwarna putih. Setelah kering dan berubah warna menjadi cokelat, getah ini dipungut dan dipasarkan sebagai opium mentah.

Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi. Kalau getah ini diekstrak lagi, akan dihasilkan morfin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Limbah ekstrasi ini kalau diolah lagi akan menjadi narkotik murah seperti “sabu”. Tanaman opium yang berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara ini sekarang telah menyebar sampai ke Afganistan dan “segitiga emas” perbatasan Myanmar, Thailand, dan Laos. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Afganistan saat ini merupakan penghasil opium terbesar di dunia dengan 87%. Laos juga merupakan salah satu penghasil terbesar. Di Indonesia, bunga poppy yang tidak menghasilkan narkotik banyak ditanam di kawasan pegunungan seperti Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen.

Dampak dari Opium

§  Efek priskolog opium sudah diketahui sejak 4.000 tahun yang lalu. Setelah digunkan, unsur aktif yang terdapat di dalam opium akan bereaksi sangat cepat. Waktu yang di perlukan untuk sampai ke otak hanya sekitar tujuh detik. Setelah itu, si pemakai akan mengalami euphoria (rasa senang berlebihan),rasa nyaman,dan daya khayal lebih tinggi. Namun kemudian pernapasan menjadi lambat, daya khayal menurun, lesu, dan pikiran kacau.

§   Saat mengalami putus zat, perasaan menjadi gelisah, lekas marah, resah, tidak bisa tidur,serta sakit perut dan otot. Pada pengguna jangka panjang, terjadi penurunan kemampuan mental dan fisik. Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun drastis.

 

Hasil Publikasi UNODC 2015, Afghanistan merupakan pemasok heroin terbesar di dunia (80%). Heroin Afghanistan di pasarkan ke seluruh dunia selain ke negara-negara Amerika latin. Di negara ini ini pula tingkat prevelansi kecanduan Opium termasuk angka tertinggi dunia (2,65%). Afghanistan bersama dengan Iran, dan Pakistan disebut sebagai daerah “Bulan Sabit Emas” (The Golden Crescent) yang merupakan sebutan untuk kawasan  produsen utama opium gelap terbesar di dunia selain kawasan Segitiga Emas yang ada di kawasan Asia Tenggara (Myanmar, Laso, dan Thailand)

 

Dari temuan terakhir, provinsi yang 100% bebas lahan opium hanya 13 dari total 34 provinsi yang ada. Hilmand merupakan Provinsi dengan jumlah lahan paling banyak yaitu 80.273 ha (40% dari total nasional), diikuti dengan Badghis (35.234 ha), Kandahar (20.475 ha), Uruzgan (15.503 ha), Nangarhar (14.344 ha), Farah (9101 ha), Badakhshan (6298 ha) dan Nimroz (5303 ha). Provinsi-provinsi diatas merupakan wilayah yang masih bergejolak dan dikuasai oleh Taliban.  Uniknya, masih dari data survey UNODC 2016, pertumbuhan jumlah lahan pertanian Opium meningkat tajam setelah AS menginvasi Afghanistan. Pada tahun 2005 terdapat 131,000 ha ladang Opium dan meningkat hampir 40% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 80.000 Ha.

Hits: 1155