PRESS RELEASE AKHIR TAHUN 2017 BNN RI

Parent Category: ROOT Category: artikel 2017 Created: Thursday, 28 December 2017 Last Updated: Thursday, 28 December 2017 Published: Thursday, 28 December 2017 Written by dankdoom
“KERJA BERSAMA PERANG MELAWAN NARKOBA”
Jakarta, 27 Desember 2017

Perang besar terhadap Narkoba yang diserukan pemimpin bangsa ini menuntut seluruh elemen bangsa untuk bergerak melawan kejahatan terorganisir yang bersifat lintas negara tersebut.

Merespon situasi bangsa yang berada dalam status darurat Narkoba, para pemangku kepentingan dan kebijakan di negeri ini pun tak dapat berdiam diri melihat Narkoba menghancurkan bangsa dan negara.

Bahkan rakyat pun dituntut mengambil langkah sekecil apapun untuk membantu menyerang kejahatan Narkoba yang secara perlahan menggerogoti bangsa Indonesia.

Pemerintah dan masyarakat akhirnya sadar bahwa kejahatan ini adalah bentuk perang modern yang tengah digencarkan oleh siapapun yang berniat menguasai Indonesia tanpa 'mengotori' tangannya sendiri.

Untuk menghadapi ancaman ini, semua harus bersatu, khususnya aparat penegak hukum yang terang-terangan dibekali senjata untuk melindungi bangsa dan negara. Tidak boleh ada lagi ego sektoral demi kepentingan terlihat berjasa di mata rakyat karena aparat penegak hukum memiliki kewajiban melindungi rakyat.

Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai lembaga negara yang memiliki kewajiban penuh dalam penanganan permasalahan Narkoba di Indonesia, menjadi garda terdepan dalam memutuskan langkah dan kebijakan yang diambil guna mengatasi peredaran gelap Narkoba dan menekan laju angka prevalensi penyalahgunaan Narkoba.

Dalam mengatasi permasalahan Narkoba, diperlukan strategi khusus, yaitu keseimbangan penanganan antara supply reduction dan demand reduction.

Supply reduction

Bertujuan memutus mata rantai pemasok Narkoba mulai dari produsen sampai pada jaringan pengedarnya, sedangkan demand reduction adalah memutus mata rantai para pengguna Narkoba. SUPPLY REDUCTION Pada pendekatan supply reduction BNN, Polri, serta Bea dan Cukai telah bekerja sama melakukan penindakan terhadap segala bentuk kejahatan Narkoba.

Periode Januari s.d. Desember 2017, telah diungkap 46.537 kasus Narkoba dan 27 kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang bersumber dari kejahatan Narkoba. Dari kasus-kasus tersebut telah diamankan 58.365 orang tersangka kasus Narkoba, 34 tersangka TPPU, dan 79 orang tersangka lainnya yang terpaksa mendapatkan hadiah berupa timah panas dari petugas hingga tewas akibat melakukan perlawanan saat dilakukan penindakan.

Hal ini merupakan bukti keseriusan aparat penegak hukum dalam melawan kejahatan Narkoba, bahwa tembak di tempat bagi para pelaku kejahatan Narkoba bukanlah gertak sambal semata melainkan komitmen hukum di Indonesia yang tegas dan keras kepada jaringan sindikat Narkoba.

Dari kasus-kasus yang berhasil diungkap aparat penegak hukum dalam kejahatan Narkoba, barang bukti yang disita adalah sebagai berikut :

SHABU 4,71 TON
GANJA 151,22 TON
EKSTASI 2.940.748 BUTIR 627,84 KILOGRAM

Sumber : Data Gabungan BNN, POLRI, BEA dan CUKAI Periode Januari – Desember 2017
Sedangkan dalam kasus TPPU terkait kejahatan Narkoba, barang bukti berupa aset dalam bentuk kendaraan bermotor, properti, tanah, perhiasan, uang tunai, dan uang dalam rekening yang berhasil disita BNN mencapai nilai Rp 105.017.000.000 (SERATUS LIMA MILIAR TUJUH BELAS JUTA RUPIAH).

Aset-aset jaringan sindikat Narkoba yang disita oleh negara ini nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung kinerja aparat dalam hal penegakan hukum tindak pidana Narkoba. Sebelumnya, pada 20 Februari 2017, BNN telah menerima barang rampasan negara yang berasal dari pengungkapan kasus Narkoba dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil Kejahatan Narkoba senilai Rp 27.282.130.000,- (DUA PULUH TUJUH MILIAR DUA RATUS DELAPAN PULUH DUA JUTA SERATUS TIGA PULUH RIBU RUPIAH) yang telah dimanfaatkan untuk kepentingan pemberantasan Narkoba.

Dalam setiap pengungkapan kasus tindak kejahatan Narkoba, aparat tidak hanya dibekali dengan senjata yang mumpuni tetapi juga dibantu oleh pasukan anjing pelacak (K9). Untuk menghadapi tantangan ancaman kejahatan Narkoba dengan modus operandi yang kian beragam, BNN membangun Pusat Unit Deteksi K9 yang difungsikan sebagai pusat pelatihan dan pengembangan K9 dalam mengungkap kejahatan Narkoba.

Selain melakukan pemberantasan peredaran gelap Narkoba, perkembangan narkotika jenis baru juga menjadi perhatian yang sangat serius bagi pemerintah. Pasalnya dari 739 zat narkotika jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS) yang dilaporkan oleh 106 negara dan teritorial sudah beredar di dunia (World Drug Report UNODC 2017), kerap menjadi modus operandi jaringan sindikat Narkoba untuk menyelundupkan Narkoba dalam bentuk lain dengan efek yang bahkan lebih dahsyat dari Narkoba pada jenis umumnya.

Dari peredaran NPS di dunia, telah didentifikasi sebanyak 68 zat NPS yang telah masuk dan beredar luas di Indonesia. Sebanyak 60 (enam puluh) zat diantaranya telah berhasil mendapatkan ketetapan hukum melalui Permenkes No. 41 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dengan ancaman hukuman yang diberlakukan sesuai dengan Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Berkaitan dengan hal tersebut, BNN pada tahun ini tengah membangun Pusat Laboratorium Uji Narkoba di Lido, Bogor, yang diharapkan mampu menjadi rujukan dan pusat penelitian tentang Narkoba di Indonesia.

DEMAND REDUCTION


Dalam pendekatan demand reduction, langkah-langkah preventif ditempuh sebagai upaya untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap Narkoba. Program dan kegiatan yang dilakukan dalam hal menekan angka prevalensi penyalahgunaan Narkoba menyasar kaum muda (anak-anak, remaja, pelajar, dan mahasiswa) yang merupakan target pasar jaringan sindikat Narkoba.

Untuk itu pada tahun 2017, BNN telah menyusun Modul Pendidikan Anti Narkoba untuk 5 (lima) sasaran, yaitu pelajar, mahasiswa, pekerja, keluarga, dan masyarakat. Modul Pendidikan Anti Narkoba ini merupakan program prioritas nasional yang sejalan dengan kebijakan nasional tentang revolusi mental. Modul tersebut telah diluncurkan di 4 wilayah, yaitu, Maluku Utara, Bali, Surabaya, dan Kalimantan Timur.

Selain dalam bidang pendidikan, guna menarik minat anak-anak, BNN bekerja sama dengan MD Entertainment menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan Narkoba melalui program televisi animasi “Adit Sopo Jarwo”. Program dengan 50 juta penonton ini dinilai sangat strategis dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan anak Indonesia terhadap bahaya penyalahgunaan Narkoba.

Sebagai bentuk lainnya dalam penyebarluasan informasi tentang Narkoba dan bahaya penyalahgunaannya serta antisipasi terhadap gencarnya perkembangan Narkoba di dunia maya, BNN telah mendistribusikan mobil sosialisasi Narkoba yang dilengkapi dengan media sosial center yang dikelola oleh BNN Kabupaten/Kota di 22 provinsi, dengan harapan mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat di wilayah Indonesia. 

Jumlah kegiatan pencegahan yang telah dilakukan oleh BNN, baik berupa advokasi, sosialisasi, dan kampanye STOP Narkoba pada tahun 2017 adalah sebanyak 10.939 kegiatan dengan melibatkan 2.525.131 orang dari berbagai kalangan, baik kelompok masyarakat, pekerja, maupun pelajar.

Tidak melulu membekali masyarakat dengan sosialisasi dan kampanye, pencegahan peyalahgunaan Narkoba juga dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat. Pada tahun ini, BNN bekerja sama dengan pemerintah provinsi Aceh meluncurkan program unggulan, yaitu Alternative Development (AD) untuk mengganti tanaman narkotika dan mengubah profesi penanam ganja menjadi petani dalam produksi unggulan. Program ini diklaim telah berhasil di berbagai negara penghasil tanaman narkotika.

Dalam jangka panjang, grand design AD diharapkan dapat mewujudkan Aceh yang bersih dari produksi ganja serta mampu mengubah kondisi permasalahan darurat Narkoba saat ini. Melalui AD, BNN, Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan komponen bangsa diajak melakukan sinergi dalam pengembangan sosial budaya, menegakkan keamanan dan ketertiban, menjaga kelestarian lingkungan hidup dan hutan, serta meningkatkan ketahanan pangan dan menggagas terbangunnya agrowisata di provinsi Aceh.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya yang telah dilakukan oleh BNN antara lain, pelatihan penggiat anti Narkoba sebanyak 146 kegiatan dengan peserta sebanyak 3.733 orang, 719 kegiatan penyuluhan yang melibatkan 219.956 orang, dan pengembangan kapasitas sebanyak 150 kegiatan dengan peserta sebanyak 3.616 orang. Sebagai upaya deteksi dini penyalahgunaan Narkoba, pada tahun ini BNN memfasilitasi kegiatan tes urine yang diikuti oleh 158.351 orang, dengan hasil sebanyak 172 orang terindikasi positif mengonsumsi Narkoba.

PENYELAMATAN PENYALAHGUNA MELALUI REHABILITASI

Rehabilitasi Narkoba merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan para pengguna dari belenggu Narkoba. Pada tahun 2017, BNN telah merehabilitasi 18.311 penyalahguna Narkoba, baik di balai rehabilitasi maupun di dalam lembaga pemasyarakatan, dan telah memberikan layanan pasca rehabilitasi kepada 7.829 mantan penyalahguna Narkoba.

Penyalahguna yang telah melewati masa rehabilitasi primer kemudian mengikuti program rehabilitasi lanjutan yang ada di Rumah Damping dengan beberapa program yang dirancang untuk pemulihan mantan penyalahguna Narkoba agar tidak kambuh kembali (relapse). Rumah Dampingan dibangun dengan tujuan untuk membawa mantan penyalahguna hingga titik total abstinen (berhenti total menggunakan Narkoba) dan menurunkan angka kekambuhan yang biasa dialami mantan penyalahguna Narkoba. Di rumah ini, mantan penyalahguna Narkoba dibekali dengan keterampilan guna meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang baru bagi mereka agar bisa kembali produktif sehingga lebih mandiri dan siap kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada tahun ini tercatat sebanyak 1.178 mantan penyalahguna Narkoba telah mengikuti program di Rumah Dampingan.

Selain memberikan layanan rehabilitasi bagi penyalahguna Narkoba, BNN juga tengah melakukan pengembangan terhadap Balai Besar Rehabilitasi di Lido, Bogor, sebagai pusat pengkajian, pusat layanan, dan pusat pelatihan (center of excellent) dalam bidang rehabilitasi penyalahguna Narkoba. Sebagai langkah awal, BNN melalu Deputi Bidang Rehabilitasi telah membuat road map pengembangan, analisa kekuatan, kelemahan, peluang serta tantangan yang akan dihadapi Balai sebagai Pusat Rehabilitasi Narkotika secara nasional. Selanjutnya di tahun mendatang akan dilakukan seluruh program pengembangan dimaksud. Dengan terbentuknya pusat layanan unggulan ini, BNN berharap mampu menjadi rujukan rehabilitasi Narkoba tidak hanya di Indonesia tetapi juga bagi mancanegara.

BERSINERGI MENAMBAH ENERGI

Menghadapi tugas yang berat dalam penanganan permasalahan Narkoba, BNN bersifat terbuka, membuka diri untuk menjalin kerja sama dan bersinergi dengan seluruh komponen bangsa guna memperkuat barisan menghadapi ancaman bahaya Narkoba. Pada tahun ini BNN telah menjalin 1 (satu) kerja sama luar negeri dengan Laos dan 33 kerja sama nasional yang terdiri dari pemerintah, swasta, lingkungan pendidikan, dan komunitas masyarakat yang telah mengukuhkan komitmennya dan melakukan aksi nyata dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Kerja sama yang sangat penting dibangun pada tahun ini adalah dengan perusahaan penerbangan Citilink, mengingat maraknya temuan pilot maskapai penerbangan yang terindikasi sebagai penyalahguna Narkoba dan membahayakan keselamatan penerbangan. Selain itu, kerja sama dengan ASPERINDO yang merupakan kumpulan perusahaan jasa ekspedisi juga tak kalah pentingnya bagi pengawasan pengiriman barang dari luar dan dalam negeri sebagai modus operandi yang kerap digunakan jaringan sindikat Narkoba untuk menyelundupkan Narkoba. Kerja sama serupa juga dijalin dengan PELINDO III (Persero) sebagai penyelenggara jasa pelabuhan yang juga merupakan pintu masuk Narkoba ke Indonesia.

Kerja sama ini diharapkan dapat menginisiasi instansi dan lembaga lainnya untuk bersama-sama beraksi dan mendukung upaya penanganan permasalahan Narkoba.

MENAMBAH KEKUATAN LEMBAGA

Selain bersinergi dengan seluruh elemen bangsa untuk menghadapi ancaman Narkoba, BNN juga mengaktualisasi diri dengan menambah kekuatan internal. Tahun ini merupakan sejarah bagi BNN dan TNI, karena pada tahun inilah secara hukum dan undangundang, sebanyak 4 (empat) Perwira Menengah TNI secara resmi menduduki jabatan dalam struktur organisasi BNN. Keterlibatan unsur TNI dalam penanganan permasalahan Narkoba merupakan bagian dari sinergitas dinamika organisasi. Hal ini merupakan bentuk keseriusan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman Narkoba.

Penambahan kekuatan internal juga dilakukan dengan penambahan 28 (dua puluh delapan) BNN Kabupaten/Kota guna memperluas jangkauan wilayah rawan peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba, sehingga saat ini BNN memiliki 34 BNN Provinsi dan 173 BNN Kabupaten/Kota.
PERJUANGAN TANPA BATAS
Narkoba merupakan permasalahan serius bagi bangsa Indonesia. Dibutuhkan komitmen, semangat, dan tekad yang kuat dalam mengatasi permasalahan yang tanpa batas ini. Memerangi Narkoba sampai tuntas menjadi prioritas BNN dan aparat penegak hukum lainnya. Oleh karena itu dukungan seluruh elemen bangsa sangat dibutuhkan dalam mengemban tugas dan amanah yang diberikan oleh masyarakat. Marilah berjuang Bersama, bekerja sekuat tenaga, menjadikan negara kita bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.

#stopnarkoba 

HUMAS BNN Humas BNN RI | @INFOBNN | Humasnews bnn | @lensa_bnn | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Call Center : 184 / SMS Center : 081 221 675 675 Hits: 97