Pengaruh Narkoba Pada Kerja Otak Manusia

Category: Uncategorised Published: Monday, 31 October 2016 Written by Super User

 

 

Tahukah Anda salah satu bahaya pemakaian narkoba adalah mempengaruhi kerja otak yang berfungsi sebagai pusat kendali tubuh dan mempengaruhi seluruh fungsi tubuh? Karena bekerja pada otak, narkoba mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Itulah sebabnya narkoba disebut zat psikoaktif.

Cara kerjanya adalah dengan me-relay signal antara neuron, otak menggunakan neurotransmitter untuk memerintah jantung untuk berdetak, paru-paru untuk bernafas dan perut untuk mencerna. Juga dapat menciptakan efek mood, tidur, konsentrasi, berat, dan dapat menyeimbangkan diri saat tidak stabil. Neurotransmiter adalah zat kimia yang memberikan informasi dan mengkomunikasikan dari otak ke tubuh.

Narkoba adalah Narkotika dan obat-obat berbahaya yang berbentuk zat kimia. Dalam bidang pengobatan medis, dikenal zat-zat kimia yang mampu mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, namun tidak memiliki efek penyembuhan. Zat kimia itulah yang sering disalahgunakan karena pemakaian dengan dosis yang berlebihan akan berakibat buruk bagi kesehatan. Zat-zat kimia tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada sistem saraf.

Ada empat macam obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf, yaitu:

1.  Sedatif, yaitu golongan obat yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas normal otak. Contohnya valium.

2.  Stimulans, yaitu golongan obat yang dapat memacu kerja otak, sehingga timbul rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, hubungan dengan orang lain menjadi akrab, akan tetapi menyebabkan tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Contoh amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau.

3.  Halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan timbulnya penghayalan pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.

4.  Painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak yang bertanggung jawab sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.

 

Pengaruh lain dari narkoba pada otak yaitu timbul rasa takut, kurang percaya diri jika tidak menggunakannya dan gangguan memori. Dalam jangka panjang secara perlahan bisa merusak sistem saraf di otak mulai dari ringan hingga permanen. Saat penggunaan obat, muatan listrik dalam otak berlebihan, jika ini sudah kecanduan, maka lama-lama kelamaan saraf bisa rusak, hilangnya kendali otak gerak, kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makana, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Yang terjadi apabila seseorang mengalami ketergantungan adalah semacam pembelajaran sel-sel otak pada pusat kenikmatan. Jika mengkonsumsi narkoba, otak membaca tanggapan orang itu. Jika merasa nyaman, otak mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan. Jika memakai narkoba lagi, orang kembali merasa nikmat seolah-olah kebutuhan batinnya terpuaskan. Otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai prioritas sebab menyenangkan. Akibatnya, otak membuat program salah, seolah-olah orang itu memerlukannya sebagai kebutuhan pokok. Terjadi kecanduan atau ketergantungan. Dalam keadaan ketergantungan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Baginya, tidak ada lagi yang lebih penting daripada mendapatkan zat yang menyebabkan dia ketagihan itu. Untuk mendapatkan itu dia dapat melakukan tindakan kriminal apa pun, seperti mencuri, menipu, bahkan membunuh. 

Konsumsi narkoba secara terus-menerus dapat menyebabkan peningkatan toleransi tubuh sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi, keadaan ini yang disebut overdosis.

 

Begitu besar bahaya narkoba terhadap kinerja otak manusia, untuk itu tidak dibenarkan kepada masyarakat untuk tidak menyalahgunakan narkoba.

Hits: 359