Wanita Indonesia dan Narkotika

Category: Uncategorised Published: Friday, 22 April 2016 Written by Super User

Sering kali kita membaca di media massa, internet bahkan melihat di televisi atau terjadi di lingkungan kita sendiri “Rela menjadi kurir narkotika karena tergiur Uang, harta bahkan cinta” oleh sindikat narkoba internasional. Hal ini sering terjadi karena wanita-wanita ini berasal dari kalangan ekonomi bawah, pendidikan yang rendah dan mudah untuk dibujuk rayu oleh sindikat narkoba.

Beberapa kasus yang terjadi dengan wanita indonesia seperti TKI bernama Wanipah yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) , menjadi kurir narkoba yang sekarang menunggu hukuman mati di China. Ketua Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) mengatakan bahwa Wanipah ditangkap kepolisian China pada 2011 karena kedapatan heroin seberat 1 kilogram di kopernya dan divonis hukuman mati karena perbuatan tersebut. Imam menjelaskan bahwa seseorang berkewarganegaraan China menitipkan barang kepada Wanipah. Orang tersebut hanya mengatakan bahwa barang itu nanti akan ada yang mengambil ketika turun di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Wanipah tidak tahu menahu mengenai heroin tersebut akan tetapii kepolisian China tidak percaya keterangan Wanipah dan mendakwa Wanipah adalah bagian dari sindikat narkotika nasional dan akhirnya China menjatuhkan hukuman mati kepada Wanipah tahun 2012 dan mendapatkan penundaan pelaksanaan selama 2 tahun.

 

Merri Utami (Mut) asal Sukoharjo, terpikat dengan keramahan pria yang baru dikenalnya di sebuah mal di Jakarta. Keramahan pria tersebut telah membius Mut, sehingga pertemanan itu berlanjut ke hubungan asmara. Apalagi dijanjikan akan dinikahi dan diberi nafkah 1 juta rupiah/minggu. Karena itu Mut setuju ketika diajak alan-jalan ke Nepal. Ternyata, Mut malah ditinggal di Nepal karena ada teman pacarnya Mut yang mau menitip barang sedangkan pria itu pulang lebih dulu ke Indonesia karena ada urusan bisnis.  Ketika sampai di bandara Soekarno-Hatta, Mut langsung diciduk petugas Kantor Pelayanan Bea Cukai (KPBC) karena dalam tasnya terdapat 1.1 kilogram heroin. Lemaslah Mut karena ia tertipu dan telah diperalat untuk membawa heroin. Ia tidak menikmati apa-apa, tapi malah divonis hukuman mati oleh PN Tangerang pada 20 Mei 2002. Majelis hakim yang dipimpin Ade Komarudin menyatakan tidak menemukan hal-hal yang meringankan Mut.

 

Edith Yunita Sianturi (EYS) bernasib sama dengan Merri Utami. Laki-laki asing berinisial W mendekati EYS  (26 tahun) sampai akhirnya mau jadi pacarnya. Pada April 2000, W yang mengaku memiliki toko di Tanah Abang, Jakarta Pusat meminta EYS mengantarkan uang ke temannya yang berinisial B di Bangkok. Bukannya  diajak pelesiran, selama seminggu EYS diam saja di hotel dan tiketnya pun ditahan B. Sebelum pulang ke Indonesia, B memberikan tas baru untuk EYS sebagai contoh di toko W di Jakarta. Karena terbukti membawa heroin 1 kilogram dalam tasnya, EYS pun akhirnya diamankan petugas. Dalam dakwaan primernya, JPU Siti Zahara menyebutkan EYS yang ditangkap pada 4 Juni 2001 telah melanggar Pasal 82 Ayat 1 (a) UU No. 22/1997 tentang Narkotika. Ancaman hukuman terberat pasal itu adalah hukuman mati. Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang memvonis hukuman mati bagi EYS pada November 2001.

Nasib tragis yang dialami wanita -wanita ini mendapat perhatian dari Pusat Kajian Wanita dan Jender (PKWJ) Universitas Indonesia. Lembaga ini telah mengadakan penelitian untuk mengungkapkan perdagangan perempuan dalam pengedaran narkotika. Perempuan itu dijadikan sebagai kurir oleh pelaku bandar narkotika melalui proses perekrutan yang sarat tekanan dan penipuan, serta hubungan personal dengan dijadikan pacar atau istri. 

Dr. Sulistyowati Irianto, Ketua PKWJ, melihat keberadaan wanita-wanita ini dan beberapa korban lainnya itu sebagai fenomena perdagangan perempuan. "Keberadaan mereka dalam aktivitas ini tidak terlalu mudah untuk dapat dikategorikan sebagai perdagangan perempuan, tapi tetap menunjukkan adanya eksploitasi dan kejahatan yang sangat merugikan perempuan," katanya. Sebagai landasan perdagangan wanita itu adalah Protokol PBB untuk mencegah, menangulangi, dan menghukum perdagangan manusia, terutama wanita dan anak-anak. Selain itu, Kepres No.88/2002 tentang rencana aksi nasional penghapusan perdagangan perempuan dan anak-anak.

Nah, fenomena perdagangan perempuan terlihat dalam kisah tragis para perempuan yang berpeluang menjadi terpidana mati itu. Pertama, perekrutan perempuan dalam jaringan narkotika itu diawali dengan tipu daya dalam berbagai bentuk. Terutama, diciptakannya hubungan personal--pacaran, perkawinan, hidup bersama--antara perempuan sebagai korban dengan pemilik sesungguhnya.

Kedua, para perempuan itu diperintahkan untuk melakukan jenis pekerjaan yang berbahaya dan beresiko, tanpa diberitahu apa bahaya dan resiko pekerjaan itu. Mereka yang masuk perangkap pacaran atau perkawinan tidak mengetahui bahwa mereka bakal dijadikan pengedar narkotika oleh pasangannya, seperti dialami  oleh EYS dan Mut.

Ketiga, adanya unsur migrasi. Buktinya, semua terpidana mati kasus narkotika tertangkap di bandara. Keberadaan para perempuan itu menjadi salah satu mata rantai dari perdagangan perempuan. Keempat, adanya unsur eksploitasi berupa kekerasan, termasuk penyekapan dan ditiadakannya hak korban untuk bertanya.

keempat, ada orang-orang yang mendapat keuntungan dari bisnis ini, yaitu pengedar lapis atas dan bandar narkotika sesungguhnya.  Mereka dapat keuntungan besar, sedangkan para perempuan itu malah mendekam di penjara dan menunggu hukuman mati.

 

Sebanyak 203 wanita Warga Negara Indonesia (WNI) sampai tahun 2012 terancam hukuman mati di luar negeri. Data lainnya, ada empat juta lebih perempuan Indonesia terlibat peredaran narkotika. Akankah wanita Indonesia masih mau ditipu dan diperdaya oleh sindikat narkotika? Agar tidak tertipu dan diperdaya, wanita Indonesia tidak sembarangan berkomunikasi dengan warga negara asing, tidak sembarangan menjalin hubungan asmara apalagi dengan laki-laki yang baru dikenal dan tidak tahu asal usulnya, harus curiga apabila ada yang mengiming-imingkan uang, rumah, tiket pesawat gratis, ataupun jalan-jalan karena bisa jadi mereka yang memberikan janji-janji manis itu adalah sindikat narkotika yang akan menjerumuskan ke penjara.

Hits: 780